KASONGAN – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Katingan memperkuat upaya pencegahan dan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di tengah kondisi musim kemarau yang masih berlangsung.
Langkah tersebut dibahas dalam Rapat Evaluasi Pencegahan dan Penanganan Karhutla yang dipimpin Wakil Bupati (Wabup) Katingan, Firdaus, di Ruang Rapat Bupati Katingan, baru-baru ini.
Dalam arahannya, Wabup berharap dunia usaha yang beroperasi di wilayah Kabupaten Katingan turut mengambil bagian dalam upaya pencegahan dan penanganan karhutla. Kolaborasi dengan dunia usaha dinilai penting, karena pengendalian karhutla merupakan tanggung jawab bersama.
“Kami sangat berharap peran dan kerja sama dari dunia usaha yang bekerja di Kabupaten Katingan. Kami tidak ingin setiap saat meminta bantuan. Kalau bisa, bantuan dan dukungan itu kita siapkan bersama sejak awal, terutama ketika menghadapi kondisi darurat,” kata Firdaus.
Dia menegaskan, bahwa keterlibatan dunia usaha diharapkan tidak hanya diberikan ketika terjadi keadaan darurat, tetapi juga dalam mendukung kesiapsiagaan dan pencegahan.
“Dengan dukungan berbagai pihak, respons terhadap potensi kebakaran dapat dilakukan lebih cepat sehingga dampak terhadap masyarakat, lingkungan, kesehatan dan aktivitas ekonomi dapat diminimalkan,” ucapnya.
Sementara Sekda Katingan, Dr. Ir. Christian Rain, MT menekankan pentingnya dukungan seluruh pihak, termasuk dalam pemenuhan sarana dan prasarana yang dibutuhkan untuk mendukung upaya pengendalian karhutla.
“Mohon dukungannya terhadap beberapa sarana yang masih kita perlukan. Yang paling penting adalah kita menyamakan persepsi dalam menangani karhutla, sehingga ketika terjadi kondisi di lapangan, semua pihak sudah memahami peran dan langkah yang harus dilakukan,” ujar Christian Rain.
Sementara Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Katingan, Yobie Sandra, dalam laporannya menyampaikan bahwa kondisi curah hujan pada Juli 2026 mulai rendah dan semakin rendah pada Agustus hingga September.
Kondisi tersebut menandai puncak musim kemarau yang perlu menjadi perhatian bersama.
“Curah hujan pada Juli sudah mulai rendah dan pada Agustus sampai September kondisinya sangat rendah. Puncak musim kemarau terjadi pada Agustus, sementara pada September ini kita masih perlu mewaspadai kondisi tersebut. Untuk Oktober, potensi kemarau masih ada, namun diperkirakan hujan mulai turun pada awal Oktober dari arah utara,” jelas Yobie.
Rapat juga dihadiri Dandim 1019/Katingan, perwakilan Kapolres Katingan, Danyon TP 831/PT, Kepala Dinas Pendidikan, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian, perwakilan Kepala Dinas Kesehatan, Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Kepala Pelaksana BPBD, Kepala UPT KPHP Katingan Hulu Unit XVII, serta Kepala UPT KPHP Katingan Hilir Unit XXX. (ndi)



