Tren Kebakaran Permukiman dan Karhutla Melonjak 300 Persen

Tren Kebakaran
Kepala Bidang Pemadaman Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Palangka Raya, Alfrianto. Foto: Ter/Kalteng Oke

PALANGKA RAYA – Kebakaran permukiman di Kota Palangka Raya menunjukkan tren peningkatan signifikan sepanjang 2026. Memasuki periode karhutla, penanganan kebakaran permukiman pada Juli hingga September, bahkan melonjak lebih dari 300 persen dibandingkan kondisi pada awal tahun.

Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmat) Kota Palangka Raya melalui Kepala Bidang Pemadaman Alfrianto mengatakan, pada awal 2026 pihaknya menangani kebakaran permukiman sekitar 15 kejadian setiap bulan.

Namun, memasuki periode karhutla, angka tersebut meningkat tajam. Juli, Agustus hingga September menjadi periode dengan tren kenaikan paling mencolok. Kondisi itu menjadi perhatian karena kebakaran permukiman harus ditangani bersamaan dengan meningkatnya kejadian kebakaran lahan.

“Jika melihat data, Januari sampai karhutla September 2026 trennya luar biasa. Di bulan Juli, Agustus, September lebih dari 300 persen. Dari awal tahun penanganan permukiman cuma berkisar 15 per bulan. Memasuki karhutla luar biasa lonjakannya,” katanya saat ditemui, Selasa (29/9/2026).

Peningkatan kejadian sendiri tidak terlepas dari perkembangan wilayah permukiman dan pertumbuhan jumlah penduduk di Kota Palangka Raya. Semakin luas kawasan hunian, semakin besar pula potensi munculnya kejadian kebakaran yang harus diantisipasi.

Dari sejumlah kebakaran permukiman yang ditangani, faktor kelistrikan menjadi salah satu penyebab yang sering ditemukan. Alfrianto menyebut sekitar 60 persen kejadian kebakaran disebut berkaitan dengan korsleting listrik.

“Penyebab kebakaran khususnya permukiman di Kota Palangka Raya ada beberapa. Yang sering terjadi adalah akibat korsleting atau listrik,” lanjutnya.

Risiko tersebut dapat meningkat ketika masyarakat menambah penggunaan listrik tanpa memperbarui instalasi. Penambahan AC maupun peralatan elektronik lainnya semestinya diikuti dengan penyesuaian daya dan kondisi kabel yang digunakan.

Usia instalasi juga perlu diperhatikan. Kabel yang telah digunakan dalam waktu lama dinilai memiliki risiko apabila tidak diperiksa atau direhabilitasi. “Kalau ditambah daya, AC atau kelistrikan lain harus diikuti pembaharuan kabelnya,” tegasnya.

Selain korsleting, kelalaian manusia masih menjadi faktor lain yang dapat memicu kebakaran. Lupa mematikan kompor menjadi salah satu contoh yang kerap terjadi. Masyarakat diminta memastikan sumber api dan peralatan listrik benar-benar aman setelah digunakan.

Di tengah tren kebakaran yang meningkat, Disdamkarmat juga menghadapi keterbatasan sarana prasarana dan SDM. Saat ini, Palangka Raya memiliki satu subsektor untuk setiap kecamatan. Untuk mengantisipasi kebutuhan penanganan, pergantian regu dan pengaturan armada dilakukan sesuai skala kejadian.

“Jika skala besar, mau tidak mau semua, bahkan yang di luar regu piket,” pungkas Alfrianto.

Januari > 4 Laporan Kebakaran di Wilayah Permukiman (1 diantaranya rumah) Kerugian total tercatat Rp261,000,000

Februari > 7 Laporan Kebakaran di Wilayah Permukiman ( 10 rumah penduduk terbakar dan 5 unit lain terdampak, adapula korsleting peralatan rumah tangga seperti blower, proyektor dan kipas angin bahkan meteran listrik) Kerugian total tercatat Rp562,200,000,00

Maret > 14 Laporan Kebakaran di Wilayah Permukiman dan 1 di Lahan ( kurang lebih 27 bangunan rumah dan barak, pohon yang berdekatan dengan rumah warga bahkan pohon di lahan warga, peralatan elektronik milik warga, regulator tabung gas warga ) Kerugian total tercatat Rp3,810,200,000,00

April > 12 Laporan Kebakaran di Wilayah Permukiman ( Kabel Travo PLN, korsleting pada kabel SR, Kabel Lampu PJU, 1 rumah kayu, rumah kosong, 1 sepeda motor, ruko) Kerugian total tercatat Rp2,823,000,000,00

Mei > 7 Laporan Kebakaran di Wilayah Permukiman ( kebocoran tabung gas, 2 kabel listrik jalan umum, bangunan cafe, 1 rumah kayu dan 1 rumah beton, panel box listrik) Kerugian total tercatat Rp1,882,000,000,00

Juni > 11 Laporan Kebakaran di Wilayah Permukiman dan 1 Lahan ( sebuah lahan terbakar dan mendekati rumah warga, rumput di bagian belakang sebuah bengkel mobil, 4 pintu asrama TNI, kabel listrik di jembatan kahayan, 2 kandang ternak di lokasi berbeda, rumah warga, atap rumah warga, bahkan kabel WIFI ). Kerugian total tercatat Rp1,530,000,000,00

Juli > 9 Laporan Kebakaran lahan ( 2 pohon, halaman belakang kantor disparbudpora, lahan mendekati wilayah permukiman jalan Aries, pohon terbakar dekat rumah warga, lahan kosong di jl PM Noor, pohon di dekat SD 12 langkai ) 16 laporan kebakaran di wilayah permukiman ( kompor dan regulator LPG, bagian depan mobil, 2 unit genset dan tv, kabel ncb, 35 rumah terbakar di wilayah berbeda, 4 barak, Kabel SR di atap Rumah, korsleting tiang listrik ) Kerugian total tercatat Rp2,905,000,000,00

Agustus > Terdapat 88 total Laporan kebakaran diterima mayoritas Kebakaran Lahan di wilayah berbeda, baik yang jauh maupun mendekati wilayah permukiman warga, bahkan senpat menghanguskan beberapa bangunan walet dan pondok di sekitar lahan. 6 Laporan Kebakaran di Wilayah Permukiman ( 1 bangunan kantor pemerintahan, 5 rumah dan 2 barak 4 pintu di jalan bangka termasuk 4 rumah terdampak dan 2 bangunan walet, rumah di jalan akasia, 1 unit mobil, rumah makan di jalan yos sudarso, 1 rumah kosong di Km16 ) Kerugian total tercatat Rp3,262,000,000,00.

September > 2 laporan kebakaran Gudang, salah satunya berada di dekat permukiman dan kantor di Jalan G Obos Induk yang diduga korsleting listrik akibat penggunaan kabel yang tidak sesuai bahkan sempat menyala lagi hingga penanganan cukup lama. 1 gudang di jalan G Obos XI. 85 Laporan lainnya merupakan kebakaran hutan dan lahan di berbagai wilayah berbeda, baik yang jauh dari permukiman dan dekat permukiman warga. Dari kejadian karhutla tidak sedikit yang turut menghanguskan bangunan walet dan pondok kayu yang ada disekitar. Kerugian total sementara tercatat Rp30,000,000,00. (ter/abe)