Asap Karhutla Kembali Selimuti Palangka Raya, Kualitas Udara Memburuk

Asap Karhutla
Petugas Satgas Karhutla melakukan pembasahan di kawasan lahan bekas terbakar di Kota Palangka Raya. Meski hujan sempat membuat asap mereda, sejumlah lokasi masih menyisakan bara yang kembali memicu munculnya asap. Foto: BPBD Kota Palangka Raya

PALANGKA RAYA – Asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menyelimuti sejumlah kawasan di Kota Palangka Raya setelah sempat mereda selama hampir sepekan. Empat hari hujan dengan intensitas cukup tinggi dan merata disertai angin sebelumnya membuat udara lebih segar dan langit kembali cerah. Namun, sejak Selasa hingga Rabu (4/11/2026), asap kembali muncul dari sejumlah lahan bekas terbakar yang masih menyisakan bara.

Kondisi tersebut menjadi perhatian karena kualitas udara Palangka Raya kembali memburuk. Berdasarkan pemantauan pada Rabu hingga Pukul 10.00 WIB, kualitas udara berada pada kategori sangat tidak sehat.

Konsentrasi partikulat PM2.5 tercatat 204 mikrogram per meter kubik (µg/m³). Bahkan, pada Pukul 06.00 WIB, angkanya sempat menyentuh 793,2 µg/m³ atau masuk kategori berbahaya.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Palangka Raya mencatat, hingga Selasa (3/11/2026), masih terdapat 10 titik lokasi yang menjadi sasaran penanganan satgas karhutla.

Sejak status siaga darurat ditetapkan pada 1 Juni hingga 3 November 2026, tercatat sebanyak 999 kejadian kebakaran dengan total luasan mencapai 1.462,65 hektare. Rinciannya, Jekan Raya 627 kejadian, Sebangau 190, Pahandut 87, Bukit Batu 89 dan Rakumpit enam kejadian.

Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan Bencana BPBD Kota Palangka Raya Heri Fauzi mengatakan, hingga Rabu belum ditemukan titik api baru. Sehari sebelumnya, tim lapangan memang mendeteksi dua titik api, masing – masing di Kelurahan Kelampangan dan Kecamatan Rakumpit. Namun, keduanya berhasil ditangani petugas di lapangan.

“Untuk hari ini belum ada ditemukan titik api yang baru. Kemarin memang termonitor ada dua titik api dan sudah dilakukan upaya penanganan sehingga titik api tersebut berhasil dipadamkan,” ujarnya.

Meski demikian, Heri mengingatkan hujan dengan intensitas rendah belum cukup untuk memastikan seluruh kawasan bekas terbakar benar-benar padam.

Kondisi lahan yang masih menyimpan bara berpotensi kembali memunculkan asap, bahkan titik api baru apabila tidak segera dituntaskan. Karena itu, satgas telah memetakan kawasan yang masih mengeluarkan asap untuk menjadi sasaran penanganan lanjutan.

Menurutnya, asap yang kembali terpantau di sejumlah wilayah Palangka Raya diperkirakan masih berasal dari sisa pembakaran di kawasan yang sebelumnya terbakar dan belum tertangani secara maksimal.

Meski begitu, kemungkinan adanya asap kiriman dari luar daerah juga tetap diperhitungkan, mengingat kondisi angin yang cukup kencang mengarah ke wilayah kota.

Fokus penanganan saat ini diarahkan pada pembasahan lahan secara menyeluruh hingga tidak lagi menyisakan bara maupun asap.

Sementara itu, dari sisi prakiraan cuaca, BMKG melihat masih terdapat peluang hujan yang cukup baik di sebagian besar wilayah Kalimantan Tengah.

Prakirawan Stasiun Meteorologi Kelas I Tjilik Riwut Ihsan Sidiq menyampaikan, pada Rabu (4/11/2026), hujan ringan berpotensi terjadi di sebagian besar wilayah Kalteng. Bahkan, hujan sedang hingga lebat yang dapat disertai petir, kilat dan angin kencang perlu diwaspadai di sejumlah kabupaten, termasuk Kota Palangka Raya.

Ihsan menjelaskan, angin di wilayah Kalteng diprakirakan bertiup dari timur hingga barat daya dengan kecepatan 6 hingga 19 kilometer per jam.

Potensi pertumbuhan awan hujan juga diprediksi cukup baik di sebagian besar wilayah. Kondisi atmosfer tersebut dinilai dapat mendukung pelaksanaan operasi modifikasi cuaca (OMC), selama pembentukan awan hujan memang memungkinkan.

“Diperlukan kondisi atmosfer yang mendukung untuk pertumbuhan awan hujan, sehingga dengan adanya OMC pertumbuhan awan tersebut bisa dioptimalkan,” jelasnya.

Prakiraan tersebut menjadi peluang bagi upaya penanganan karhutla, tetapi tidak serta-merta menjamin seluruh kawasan terdampak langsung terbebas dari asap. Sebab, hujan yang turun dengan intensitas rendah belum tentu mampu membasahi lapisan lahan yang terbakar hingga ke bagian dalam.

Di sisi lain, kualitas udara yang masih berada pada kategori sangat tidak sehat hingga berbahaya menunjukkan persoalan asap belum sepenuhnya teratasi, meskipun hujan mulai kembali terjadi.

Karena itu, penanganan karhutla masih membutuhkan dua upaya yang berjalan beriringan. Potensi hujan dan OMC diharapkan membantu kondisi atmosfer, sementara satgas tetap harus memastikan pembasahan di lokasi bekas kebakaran dilakukan sampai tuntas.

Dengan masih tercatatnya 10 lokasi penanganan dan luas kebakaran mencapai lebih dari 1.400 hektare, meredanya asap akibat hujan belum bisa menjadi tanda, bahwa ancaman karhutla di Palangka Raya telah berakhir. (ter/abe)