Kisah Sisir Ajaib di Hadapan 700 Pelajar, Uskup Aloysius Tekankan Pentingnya Kecerdasan

uskup
Uskup Palangka Raya Mgr Aloysius Maryadi Sutrisnaatmaka MSF mengingatkan para pelajar agar tekun dan giat belajar. Foto: Ist

PALANGKA RAYA – Uskup Palangka Raya Mgr Aloysius Maryadi Sutrisnaatmaka MSF mengingatkan para pelajar agar tekun dan giat belajar. Tujuan belajar bukan hanya sekadar mengejar nilai yang tinggi, tapi lebih itu untuk mempersiapkan hidup yang lebih baik.

Pesan ini disampaikan pemimpin tertinggi gereja Katolik Kalimantan Tengah (Kalteng) itu, dalam homilinya pada Misa Syukur 25 Tahun Tahbisan Episkopal Uskup bersama Pelajar Katolik se-Kota Palangka Raya, di SMAK St Aloysius kompleks Catholic Center Palangka Raya, Sabtu (9/5/2026) pagi.

“Kalau hanya untuk mencari nilai yang bagus, maka dengan menyontek pun bisa. Tapi belajar bukan hanya sekadar untuk mengejar nilai yang tinggi, tapi lebih itu juga untuk mempersiapkan hidup yang lebih baik,” pesan Uskup.

Uskup kemudian memberikan ilustrasi tentang pentingnya belajar dan menjadi cerdas melalui sebuah cerita pendek tentang Sisir Ajaib

Alkisah, ada sebuah perusahaan sisir mengutus tiga orang karyawan menjual sisir ke sebuah biara yang dihuni para biksu. Orang pertama berangkat lalu mulai menawarkan sisir kepada para biksu. Tapi para biksu menunjukkan kepala yang plontos, mustahil menyisir rambut. Seorang biksu karena rasa kasihan, membeli sisir itu. Orang pertama hanya berhasil menjual satu sisir.

Lalu orang kedua, dia melihat semua biksu tidak ada rambut sehingga mustahil menjual sisir kepada mereka. Ia lalu menawarkan sisir itu kepada para turis atau pengunjung yang memadati tempat wisata di luar biara. Orang kedua ini berhasil menjual 10 sisir kepada para turis.

Giliran orang ketiga, dia meminta tanda tangan kepala biara pada setiap sisir. Kemudian mempromosikan kepada para pengunjung, bahwa sisir yang Ia jual memiliki keajaiban, ada berkat, sebab ada tanda tangan pemimpin biara.

Para turis berbondong-bondong beli sisir. Dalam waktu singkat, 50 sisir habis. Dia kembali kepada kepala biara, dan mengatakan akan bawa 500 sisir dan minta tanda tangan.

Dari kisah ini, Uskup mengungkapkan bagaimana kecerdasan dapat mengubah tantangan menjadi peluang. Pelajar diajak untuk meniru cara berpikir orang ketiga dalam kisah ini.

“Kecerdasan jika dikombinasikan dengan nasihat Santo Paulus, tetap tinggal dalam kasih karunia Allah, disertai tindakan, maka semua harapan dan cita-cita akan terwujud atas pertolongan Allah,” pesan Uskup.

Pesan Santo Paulus itu pula yang menjadi motto Tahbisan Uskup, Permanere in Gratia Dei (Tetap tinggal dalam Kasih Karunia Allah).

Misa ini sendiri dihadiri sekitar 700 orang pelajar Katolik dari berbagai sekolah di Palangka Raya. Uskup Aloysius memimpin misa sebagai Selebran utama didampingi Uskup Tanjung Selor Mgr Paul Yan Olla MSF, Uskup Agung Samarinda Mgr. Harjosusanto, MSF, Romo Agung Prihartono, MSF (General MSF), Vikjen Ketapang RD Sutadi, Romo Liu Fut Kin, MS, Romo Marga Murwanta, MSF dan Romo Marharsono MSF.

Turut hadir puluhan imam dari berbagai daerah di Kalteng dan ratusan umat Katolik dari Kota Palangka Raya. (VK1/cen)