Demi Pendidikan, Uskup Aloysius Tolak Tutup Sekolah Katolik di Kalteng

katolik
Talkshow Kreatif bertajuk “Dari Benih Menjadi Pohon: Menghidupkan Memori di Masa Lampau, Mensyukuri Masa Sekarang, dan Menatap Masa Depan Penuh Harapan” di Aula Magna, Jumat sore (8/5/2026), yang merupakan bagian dari rangkaian Pesta Perak tahbisan Uskup Aloysius. Foto: Ist

PALANGKA RAYA – Komitmen Uskup Palangka Raya, Mgr Aloysius Maryadi Sutrisnaatmaka, MSF dalam mempertahankan karya pendidikan Katolik di Kalimantan Tengah mendapat apresiasi dari Guru Besar Universitas Palangka Raya, Prof Petrus Poerwadi.

Hal tersebut disampaikan Prof Petrus dalam Talkshow Kreatif bertajuk “Dari Benih Menjadi Pohon: Menghidupkan Memori di Masa Lampau, Mensyukuri Masa Sekarang, dan Menatap Masa Depan Penuh Harapan” di Aula Magna, Jumat sore (8/5/2026), yang merupakan bagian dari rangkaian Pesta Perak tahbisan Uskup Aloysius.

“Selama 25 tahun memimpin Keuskupan Palangka Raya, Uskup Aloysius selalu menempatkan pendidikan sebagai jalan untuk mengangkat harkat dan martabat manusia,” kata Prof Petrus.

Ia menilai berbagai lembaga pendidikan di bawah Keuskupan Palangka Raya tetap dipertahankan meski secara finansial tidak memberikan keuntungan.

“Berbagai yayasan pendidikan di bawah Keuskupan Palangka Raya ini di seluruh Kalteng sebenarnya tidak ada yang menguntungkan. Kalaupun ada itu hanya pas-pasan, bahkan ada yang tidak menguntungkan sama sekali,” ungkapnya.

Menurut Prof Petrus, banyak kalangan awam mempertanyakan alasan Uskup Aloysius tetap mempertahankan sekolah dan lembaga pendidikan yang secara ekonomi dinilai berat untuk dijalankan. Namun bagi Uskup Aloysius, pendidikan memiliki nilai yang jauh lebih besar dibanding keuntungan materi.

“Mungkin kita sebagai awam bertanya, apa sih yang dicari Bapa Uskup ini, tidak menguntungkan lho, kenapa tidak ditutup saja,” katanya.

Ia mencontohkan sejumlah lembaga pendidikan seperti Seminari Raja Damai dan STIPAS yang tetap berjalan meski kondisi keuangannya terbatas. Bahkan, kata dia, sejumlah pihak sempat menyarankan agar lembaga tersebut ditutup, namun tidak pernah disetujui oleh Uskup Aloysius.

“Walaupun Seminari Raja Damai itu tidak menguntungkan, STIPAS itu pas-pasan, kalau Mgr ini orientasinya finansial sudah ditutup semua itu. Walaupun kami sudah sarankan untuk ditutup saja, Bapa Uskup tidak pernah setuju karena beliau punya pandangan lain,” tuturnya.

Prof Petrus menegaskan, Uskup Aloysius meyakini pendidikan merupakan sarana penting untuk membebaskan masyarakat dari keterbelakangan. Karena itu, berbagai sekolah di daerah terpencil tetap dipertahankan demi memberikan akses pendidikan kepada masyarakat.

“Karena Mgr percaya pendidikan itu bisa membebaskan. Di Murung Raya itu ada TK, pas-pasan juga tapi tetap dipertahankan,” tandasnya. (*/cen)