“Dari Benih Menjadi Pohon”, Kisah 25 Tahun Uskup Aloysius Dibagikan dalam Talkshow

talkshow
Suasana penuh haru dan syukur mewarnai Talkshow Kreatif bertajuk “Dari Benih Menjadi Pohon: Menghidupkan Memori di Masa Lampau, Mensyukuri Masa Sekarang, dan Menatap Masa Depan Penuh Harapan” yang menjadi bagian dari rangkaian Pesta Perak tahbisan Uskup Palangka Raya, Mgr Aloysius Maryadi Sutrisnaatmaka. Foto: Ist

PALANGKA RAYA – Suasana penuh haru dan syukur mewarnai Talkshow Kreatif bertajuk “Dari Benih Menjadi Pohon: Menghidupkan Memori di Masa Lampau, Mensyukuri Masa Sekarang, dan Menatap Masa Depan Penuh Harapan” yang menjadi bagian dari rangkaian Pesta Perak tahbisan Uskup Palangka Raya, Mgr Aloysius Maryadi Sutrisnaatmaka.

Talkshow tersebut menghadirkan sejumlah tokoh yang menjadi saksi hidup perjalanan kepemimpinan Uskup Aloysius selama 25 tahun sejak ditahbiskan pada 7 Mei 2001. Mereka di antaranya Prof Petrus Poerwadi, RP T.L. Atsui Wiyatngow, Dr F.X Manesa, serta Sr Elisabeth.

Dalam sambutan pengantar, Uskup Aloysius mengaku terharu melihat antusiasme seluruh lapisan masyarakat dalam menyambut Pesta Perak tahbisannya. Menurutnya, perayaan tersebut menjadi wujud nyata rasa syukur atas perjalanan pelayanan yang telah dilalui bersama umat.

“Saya sendiri tidak membayangkan akan dirayakan sampai seperti ini. Secara spontan patut kita syukuri, kita harus lebih bersyukur lagi karena apa yang kita alami lebih dari yang kita harapkan,” tutur Uskup Aloysius.

Dipandu moderator RD Andreas Jimmy, para narasumber secara bergantian membagikan kesaksian inspiratif mengenai sosok Uskup Aloysius.

Pastor Atsui menggambarkan Uskup Aloysius sebagai pribadi yang murah hati dalam pelayanan.

“Jika diminta menggambarkan Uskup Aloysius dalam satu kalimat, maka kalimat saya adalah pelayanan yang murah hati,” katanya.

Sementara itu, Prof Petrus Poerwadi memilih satu kata sederhana untuk menggambarkan sosok Uskup Aloysius, yakni “tenang”. Menurutnya, ketenangan menjadi ciri khas kepemimpinan Uskup Aloysius dalam menghadapi berbagai persoalan dan dinamika pelayanan gereja.

“Monsinyur selalu tenang dalam menghadapi segala situasi. Beliau ini pendengar yang sangat baik, tidak akan memberi tanggapan jika tidak diminta. Beliau akan mendengarkan orang berbicara tanpa menanggapi, beliau tidak akan terpancing pada situasi yang panas, lalu baru akan memberi komentar jika diminta pertimbangan,” tutur Prof Petrus yang juga akademisi di Universitas Palangka Raya.

Talkshow kreatif tersebut menjadi ruang refleksi bersama atas perjalanan panjang pelayanan Uskup Aloysius sekaligus momentum memperkuat harapan dan semangat pelayanan gereja ke depan. (*/cen)