PALANGKA RAYA – Pemerintah Kota (Pemko) Palangka Raya memperkuat layanan kesehatan bagi masyarakat di tengah paparan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Palangka Raya, memastikan empat puskesmas besar disiapkan untuk memberikan pelayanan selama 24 jam.
Kepala Dinkes Kota Palangka Raya, Riduan mengatakan, kebijakan tersebut merupakan bagian dari implementasi langkah yang sebelumnya disampaikan Wali Kota Palangka Raya, Fairid Naparin.
Selain puskesmas, dukungan pelayanan juga diperkuat melalui puskesmas pembantu, posyandu, masyarakat serta organisasi kemasyarakatan, seperti PKK dan PMI.
“Seperti apa yang Pak Wali sampaikan, sebenarnya sudah terimplementasi. Puskesmas pembantu, ditambah lagi posyandu, kemudian masyarakat serta organisasi masyarakat seperti PKK dan PMI,” kata Riduan, Selasa (29/9/2026).
Jumlah titik layanan yang membantu masyarakat sebenarnya lebih banyak dari data yang saat ini tercatat. Namun, data terbaru masih dalam proses pemutakhiran oleh Dinkes.
“Sebenarnya jumlahnya lebih dari itu, hanya saja data terbaru belum kami tambahkan. Nanti akan kami sampaikan tambahan data terbaru,” ujarnya.
Pemerintah Kota (Pemko) sendiri tidak hanya menyiapkan titik layanan, tetapi juga memastikan kebutuhan pendukung pelayanan kesehatan tersedia. Mulai dari rumah oksigen, fasilitas kesehatan, sumber daya manusia (SDM), hingga sarana dan obat-obatan disiapkan untuk menghadapi dampak kabut asap.
“Intinya, Pemerintah Kota Palangka Raya telah menyiapkan berbagai upaya dalam rangka memperhatikan masyarakat. Salah satunya melalui penyiapan rumah oksigen, fasilitas kesehatan, sumber daya manusia, serta sarana dan obat-obatan. Semuanya sudah kami siapkan agar dapat melayani masyarakat,” jelasnya.
Untuk layanan 24 jam, Riduan menyebut empat puskesmas yang disiapkan berada di Puskesmas Pahandut, Menteng, Tangkiling dan Kereng Bangkirai. Keempat fasilitas kesehatan tersebut menjadi bagian dari upaya memastikan masyarakat tetap memperoleh pertolongan ketika gangguan pernapasan muncul di luar jam pelayanan reguler.
“Untuk puskesmas ada empat puskesmas besar yang kami siapkan. Yakni Puskesmas Pahandut, Menteng, kemudian Tangkiling dan Kereng Bangkirai. Itu yang kami buka dan kami siap melayani,” tegasnya.
Tidak berhenti di empat puskesmas tersebut, Dinkes juga tengah menyiapkan SDM di sejumlah kelurahan agar mampu memberikan pelayanan 24 jam.
Riduan, menyebut langkah itu dilakukan untuk memperluas jangkauan layanan, sekaligus menjalankan kebijakan Wali Kota di tengah kondisi kualitas udara yang memburuk.
“Sekarang kami juga sedang menyiapkan sumber daya di beberapa kelurahan yang memang kami siapkan untuk pelayanan 24 jam. Sesuai dengan apa yang disampaikan Pak Wali, semuanya kami implementasikan,” katanya.
Urgensi penguatan layanan tersebut terlihat dari pemanfaatan rumah oksigen oleh warga. Di Puskesmas Menteng, misalnya, tercatat sekitar 48 warga telah memanfaatkan fasilitas tersebut sejak dibuka bulan lalu.
Plt Kepala UPT Puskesmas Menteng Didik Purwanto menyebut mayoritas pengguna merupakan orang dewasa, meski terdapat pula anak-anak dengan keluhan pernapasan.
Sementara di Puskesmas Pahandut, sekitar 50 hingga 60 warga tercatat memanfaatkan rumah oksigen sepanjang Agustus hingga September. Tenaga kesehatan Puskesmas Pahandut dr. Agra menjelaskan, keluhan yang banyak ditemukan berkaitan dengan iritasi atau peradangan saluran pernapasan akibat paparan udara tercemar dan polutan. Kondisi tersebut dapat membuat saluran napas menyempit sehingga aliran udara menuju paru-paru kurang optimal dan menimbulkan sesak.
Penanganan sendiri diberikan sesuai kondisi medis, antara lain terapi oksigen, nebulizer, obat pelega pernapasan atau antiinflamasi sesuai indikasi. Kondisi ini terutama perlu diwaspadai kelompok rentan serta warga dengan riwayat penyakit saluran pernapasan.
Untuk waktu pemanfaatan layanan Rumah Oksigen sendiri tidak menentu, untuk Puskesmas Pahandut sendiri dimanfaatkan saat pagi hingga siang hari, untuk Puskesmas Menteng cenderung di waktu usai maghrib bahkan ada yang datang dini hari. (ter/abe)



