Pemko Palangka Raya Belum Tetapkan Status Siaga

Pemko Palangka
Wali Wali Kota Palangka Raya, Achmad Zaini. Foto: Ifa

PALANGKA RAYA – Kabut asap mulai menyelimuti sejumlah kawasan di Kota Palangka Raya. Dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai dirasakan masyarakat, namun Pemerintah Kota (Pemko) Palangka Raya masih belum menetapkan status siaga.

Wali Wali (Wawali) Kota Palangka Raya, Achmad Zaini mengatakan, hingga saat ini pemerintah masih melakukan pemantauan terhadap perkembangan kondisi di lapangan sebelum memutuskan menaikkan status.

“Belum. Saat ini status masih belum ditetapkan,” kata Achmad Zaini, Senin (27/7/2026).

Meski status siaga belum diberlakukan, ia mengakui tanda-tanda meningkatnya ancaman karhutla sudah mulai terlihat. Asap telah muncul di beberapa wilayah sehingga pemerintah memperkuat pemantauan untuk memastikan sumber kebakaran dan tingkat pengendaliannya.

“Kondisi di lapangan sudah mulai terasa, termasuk adanya asap di beberapa wilayah. Kami juga sudah berkoordinasi dengan Kepala BPBD dan merencanakan patroli untuk melihat langsung kondisi di lapangan, memastikan apakah ada kebakaran di wilayah kota dan apakah masih terkendali,” ujarnya.

Di tengah mulai munculnya kabut asap, Pemko Palangka Raya juga masih mengandalkan dukungan pemerintah pusat melalui Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) sebagai salah satu upaya menekan dampak karhutla. Namun, upaya tersebut belum dapat berjalan optimal.

Menurut Achmad Zaini, pelaksanaan TMC sebelumnya belum berhasil karena terkendala kondisi cuaca yang tidak memenuhi syarat.

“Kemarin sebenarnya sudah ada upaya, tetapi belum berhasil karena pelaksanaan TMC sangat bergantung pada kondisi awan. Kalau syarat dan kondisi awannya memungkinkan, maka peluang terjadinya hujan bisa lebih besar,” katanya.

Pihak Pemko Palangka Raya menyatakan, akan terus memantau perkembangan titik-titik rawan karhutla dan kondisi kualitas udara. Hasil pemantauan lapangan akan menjadi dasar dalam menentukan apakah status siaga perlu segera diberlakukan apabila situasi terus memburuk. (ifa/abe)