JAKARTA – Industri petrokimia nasional mengalami tekanan akibat terganggunya pasokan gas bumi, yang diperparah eskalasi konflik geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat-Israel.
Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin, Aromatik dan Plastik Indonesia (Inaplas), Fajar Budiono mengungkapkan pasokan gas faktor krusial yang menentukan biaya produksi.
Para pelaku industri petrokimia diketahui semakin kewalahan setelah adanya pengumuman terbaru mengenai keterbatasan suplai gas.
“Kemarin pada saat suplai gas, ada pengumuman untuk tidak menaikkan kapasitas, kami juga kaget,” kata Fajar Budiono, saat dihubungi Jpnn.com, dikutip Kamis (26/3/2026).
Akibat ketidakpastian pasokan gas tersebut, industri mengambil langkah darurat demi mempertahankan operasional pabrik.
Fajar menyebut industri harus beralih ke sumber energi alternatif, sehingga berdampak pada pembengkakan beban biaya perusahaan.
“Itu yang pertama. Yang kedua, karena perang juga, akhirnya juga bahan baku juga sedikit mengalami ketidakpastian jadwal pasokannya,” tuturnya.
Di sisi lain, industri petrokimia juga harus berhadapan dengan lonjakan permintaan musiman.
Kebutuhan bahan baku untuk memproduksi berbagai barang konsumsi selama bulan puasa dan hari raya menjadi tekanan tambahan di tengah krisis energi.
Idealnya, industri berjalan lebih maksimal di periode puncak, dengan target utilisasi 90 persen.
“Ya harusnya sih di atas 80 persen. Tapi kan karena ada kondisi itu ya kita 70-80 lah. Karena kalau menghadapi puasa dan Lebaran itu kami harus running di atas mendekati 90 persen,” jelasnya.
Namun, tahun ini, target utilisasi industri hanya ditargetkan mencapai 70-80 persen.
Rendahnya angka pemanfaatan kapasitas produksi atau utilisasi ini menjadi sorotan utama bagi keberlangsungan industri hilir.
Sayangnya, penurunan target utilisasi tersebut juga tak tercapai, karena gangguan pasokan gas bumi dan keterbatasan bahan baku.
“Enggak bisa tercapai, karena ya pertama gasnya enggak ada, kedua juga bahan bakunya enggak ada, padahal kami harus dikejar untuk memenuhi bahan baku kebutuhan Lebaran dan puasa ini,” tuturnya.
Fajar tidak menampik pelaku usaha di sektor petrokimia merasa sangat terbebani oleh situasi global yang tidak menentu.
Penekanan beban ada pada tingginya harga energi serta kelangkaan volume bahan baku primer.
“Ya terus terang kita berat sekali di sini. Pertama perang, kedua juga harga bahan baku makin mahal, harga energi juga mahal, kemudian volumenya juga enggak ada,” katanya mengeluh.
Menghadapi tantangan tersebut, Inaplas menyiapkan strategi bertahan dengan memaksimalkan sumber daya yang tersedia.
Fokus utama saat ini yakni memroduksi barang semampunya agar ketersediaan produk di pasar pasca-Lebaran tetap terjaga.
Harapannya, industri bisa memenuhi kebutuhan pasar, sehingga tidak terjadi kelangkaan yang dapat memicu panic buying.
“Mudah-mudahan jangan sampai ada panic buying, karena kalau ada panic buying nanti yang diuntungkan adalah produk impor, di mana produk impor ini sekarang mayoritas dari China, sehingga ya nanti kita merebut pasarnya lagi agak susah gitu,” katanya menjelaskan. (jpnn)



