DI ruang rapat besar Kementerian Keuangan, sosok perempuan berkacamata itu kerap berdiri dengan tenang. Tangannya memegang tumpukan data, suaranya tegas, dan matanya menyapu hadirin dengan tatapan penuh keyakinan. Ia adalah Sri Mulyani Indrawati, bendahara negara yang sudah 14 tahun menjaga arus keuangan republik ini.
Publik mengenalnya sebagai menteri yang lugas, berani, dan sering membuat anggota dewan terdiam oleh paparan angkanya. Namun di balik ketegasan itu, ada sisi lain yang jarang terlihat: seorang ibu, seorang pendidik, dan seorang perempuan yang sepanjang hidupnya berjuang menyeimbangkan karier, keluarga, dan panggilan untuk negeri.
Lahir di Bandar Lampung pada 26 Agustus 1962, Sri Mulyani tumbuh dalam keluarga akademisi. Sejak kecil, ia sudah ditempa disiplin ilmu dan kejujuran. Ayahnya, seorang dosen, menanamkan nilai integritas yang kelak menjadi bekal saat ia memegang tanggung jawab besar. “Jujur itu tidak selalu membuat kita disukai, tapi akan selalu membuat kita dihormati,” begitu pesan yang ia bawa hingga kini.
Perjalanan hidupnya tidak pernah mudah. Saat menempuh pendidikan doktoral di Amerika Serikat, ia harus membagi waktu antara kuliah, riset, dan mengurus anak-anak. Ia kerap bercerita bahwa keberhasilan akademiknya bukan semata karena kecerdasan, tetapi juga keteguhan untuk tetap hadir sebagai ibu. Dari situlah lahir keseimbangan yang menjadi ciri khas kepemimpinannya: keras pada prinsip, tapi lembut pada sisi kemanusiaan.
Ketika dipercaya menjadi Menteri Keuangan pertama kali pada 2005, Sri Mulyani tampil sebagai figur baru di dunia birokrasi yang kala itu masih sarat kompromi. Ia membawa gaya kepemimpinan berbeda: terbuka, meritokratis, dan memberi ruang pada generasi muda untuk bersuara. Banyak pegawai Kementerian Keuangan mengenang momen ketika ia menyapa staf junior dengan senyum, menanyakan kabar, atau memberi nasihat singkat yang membekas.
Di ruang rapat kabinet, ia dikenal tidak segan berdebat demi kepentingan fiskal negara. Namun di rumah, ia tetaplah seorang ibu yang menyempatkan diri memasak atau sekadar bercanda dengan anak-anaknya. Bagi Sri Mulyani, keluarga adalah jangkar yang membuatnya tetap tegak berdiri meski badai kritik sering menerpa.
Karier internasionalnya sebagai Direktur Pelaksana Bank Dunia menjadi bukti pengakuan dunia atas kapasitasnya. Tapi ketika panggilan pulang datang, ia tak ragu meninggalkan kursi prestisius itu demi Indonesia. “Negara memanggil,” katanya singkat, seolah menjawab mengapa ia rela kembali mengelola APBN yang penuh tantangan.
Empat belas tahun bukan waktu singkat. Ia melewati gejolak krisis global, pandemi COVID-19, hingga ketidakpastian geopolitik dunia. Dalam setiap krisis, wajah Sri Mulyani selalu hadir di layar kaca, menjelaskan dengan bahasa sederhana tentang angka-angka yang sesungguhnya menentukan arah hidup jutaan rakyat.
Di balik semua itu, Sri Mulyani tetaplah perempuan sederhana: disiplin, penuh dedikasi, dan tidak pernah berhenti belajar. Baginya, menjaga keuangan negara bukan hanya soal hitung-menghitung anggaran, melainkan menjaga kepercayaan rakyat agar yakin bahwa uang mereka dikelola dengan hati-hati dan penuh tanggung jawab.
Empat belas tahun, Sri Mulyani membuktikan bahwa kepemimpinan sejati bukan tentang popularitas, tetapi tentang keberanian menjaga integritas meski kerap berdiri seorang diri.
Namun ada satu kisah pahit. Sri Mulyani harus mengalami penjarahan rumah oleh massa pada Minggu (31 Agustus 2025) dini hari. Dalam kejadian itu, dia mengungkapkan kesedihan pribadinya lewat akun Instagram @smindrawati.
Dalam unggahan tersebut, ia menyoroti perampasan sebuah lukisan bunga—karya pribadinya yang ia buat 17 tahun lalu sebagai bentuk kontemplasi dan refleksi hidup.
“Lukisan bunga itu bagi penjarah mungkin hanya dianggap bernilai seperti lembaran uang,” tulis Sri Mulyani.
“Namun, bagi saya, lukisan yang dibuat 17 tahun lalu itu adalah simbol perenungan dan kontemplasi diri. Sangat pribadi.”
Ia juga menyebut rumah yang dijarah itu penuh kenangan, tempat anak-anaknya tumbuh dan bermain. Semua memori itu, menurutnya, tak ternilai harganya.
Kabar penjarahan itu mengejutkan masyarakat Indonesia. Kini, Senin 8 September 2025, masyarakat Indonesia kembali dikejutkan. Sosok perempuan hebat ini tiba-tiba diganti oleh Presiden Prabowo Subianto dari kursi menteri keuangan. Sri Mulyani resmi digantikan oleh Purbaya Yudhi Sadewa dalam reshuffle Kabinet Merah Putih.
Presiden Prabowo Subianto menunjuk Purbaya sebagai Menteri Keuangan melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 86 Tahun 2025.
Pergantian ini menjadi salah satu dari lima perubahan besar dalam perombakan kabinet yang dilakukan kurang dari setahun sejak Kabinet Merah Putih diumumkan. (*)
Penulis: Vinsensius
Catatan: Dirangkum dari berbagai sumber



