PALANGKA RAYA — Di tengah persoalan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) serta kabut asap yang masih menghantui masyarakat, sejumlah akun media sosial (Medsos) resmi instansi Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) justru serempak mengunggah ucapan selamat ulang tahun untuk Thisia Agustiar Sabran, istri Gubernur Kalteng Agustiar Sabran.
Unggahan tersebut justru menuai sorotan tajam dari warganet. Sejumlah pengguna media sosial mempertanyakan urgensi akun resmi pemerintah daerah mempublikasikan perayaan ulang tahun keluarga kepala daerah ketika masyarakat masih menghadapi ancaman karhutla dan dampak kesehatan akibat kualitas udara.
Salah satu komentar pada akun Instagram Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kalteng dari akun @tikussbiru menyoroti skala prioritas pemerintah di tengah kondisi tersebut. “Lebih penting ngurusin bencana lebih penting kasih ucapan ibu.”
Kritik serupa disampaikan akun @zulfiqar.raymond yang mempertanyakan alasan instansi pemerintah ikut mempublikasikan ucapan ulang tahun tersebut.
“Baru ini saya lihat ada dinas publikasi ucapan ulang tahun, Maaaafff bgt… emang seluruh warga kalteng perlu tau klo dia ulang tahun???”
Sorotan publik tersebut muncul di tengah situasi karhutla yang masih menjadi persoalan serius di Kalteng.
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kalteng per 22 Agustus, tercatat sebanyak 1.686 kejadian karhutla di wilayah Kalteng.
Angka tersebut menunjukkan besarnya persoalan yang tengah dihadapi pemerintah dan masyarakat. Ketika kebakaran masih terjadi di sejumlah wilayah, perhatian publik pun tertuju pada langkah konkret pemerintah dalam mencegah meluasnya karhutla dan melindungi warga dari dampaknya.
Persoalan juga tidak hanya berkaitan dengan titik kebakaran. Asap yang ditimbulkan karhutla turut meningkatkan kekhawatiran terhadap kesehatan masyarakat.
Data Dinas Kesehatan Kalteng mencatat sebanyak 6.522 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) sejak Mei hingga Agustus di seluruh wilayah provinsi tersebut.
Lima daerah, yakni Kota Palangka Raya, Kotawaringin Barat, Kapuas, Kotawaringin Timur, dan Barito Selatan, menyumbang sekitar 69 persen dari total kasus ISPA tersebut.
Kondisi itu membuat penanganan dampak kesehatan akibat kemarau dan karhutla menjadi salah satu persoalan yang mendapat perhatian masyarakat.
Di tengah situasi tersebut, publik mempertanyakan skala prioritas komunikasi pemerintah, terutama ketika akun resmi organisasi perangkat daerah digunakan untuk mengunggah ucapan ulang tahun keluarga kepala daerah.
Ucapan ulang tahun kepada keluarga pejabat pada dasarnya merupakan urusan pribadi. Namun, ketika sejumlah akun resmi pemerintah daerah ikut mempublikasikannya secara serempak, pesan yang diterima publik dapat menjadi berbeda.
Yang menjadi sorotan bukan semata-mata perayaan ulang tahun, melainkan kepantasan dan momentum.
Ketika masyarakat menghadapi karhutla, ancaman kabut asap, serta ribuan kasus ISPA, publik tentu lebih membutuhkan informasi mengenai langkah pemerintah dalam menangani kebakaran, melindungi warga terdampak, memperkuat pelayanan kesehatan, dan menghadapi kondisi kemarau.
Dalam situasi krisis, akun resmi pemerintah bukan hanya menjadi etalase kegiatan seremonial. Kanal tersebut juga merupakan sarana komunikasi publik yang semestinya mencerminkan kebutuhan dan kepentingan masyarakat.
Karena itu, kritik warganet terhadap unggahan ucapan ulang tahun tersebut dapat dibaca sebagai bentuk tuntutan agar pemerintah lebih peka terhadap kondisi masyarakat.
Bagi warga yang sedang menghadapi asap dan ancaman gangguan kesehatan akibat karhutla, persoalan utamanya bukan siapa yang sedang berulang tahun. Pertanyaan yang lebih mendesak adalah ketika karhutla belum reda, apa yang sedang dilakukan pemerintah untuk melindungi masyarakat? (ifa/cen)



