Pemerintah Diminta Terbuka Terkait Harga Keekonomian BBM Bersubsidi

Pemerintah
Ketua MPP PKS, Mulyanto meminta pemerintah membuka skema penentuan harga BBM subsidi untuk mengantisipasi spekulasi di masyarakat terkait struktur harga produks. Ilustrasi: Kenny Kurnia Putra/JPNN.com

JAKARTA – Ketua MPP PKS, Mulyanto meminta pemerintah membuka skema penentuan harga BBM subsidi untuk mengantisipasi spekulasi di masyarakat terkait struktur harga produksi dan harga jual.

Hal itu dikatakan Mulyanto merespons informasi yang viral terkait harga keekonomian Pertalite yang sebesar sebesar Rp 16.088 per liter.

“Pemerintah semestinya transparan dalam menentukan harga keekonomian BBM ini,” kata Mulyanto dikonfirmasi JPNN, Rabu (6/5/2026).

“Audit oleh BPK menjadi penting untuk memastikan bahwa formula yang digunakan untuk menghitung keekonomian BBM bersubsidi benar-benar mencerminkan kondisi riil,” kata Anggota Komisi Energi, DPR RI Periode 2019-2024 itu.

Mulyanto menambahkan, dinamika harga energi global yang fluktuatif, menuntut negara untuk hadir melindungi daya beli rakyat melalui kebijakan subsidi. Hitung-hitungan subsidi tersebut perlu transparan, rasional dan akuntabel.

“Di sinilah pentingnya kita meluruskan persepsi publik terkait struktur harga BBM, khususnya antara Pertalite dan Pertamax,” ujar Mulyanto.

Dia menilai secara teknis dan ekonomi, tidak terdapat dasar yang kuat untuk menyatakan bahwa BBM dengan kualitas lebih rendah memiliki biaya produksi lebih tinggi.

Pertalite dengan RON 90, dalam logika industri perminyakan, seharusnya memiliki biaya produksi yang lebih rendah dibandingkan Pertamax dengan RON 92 yang membutuhkan proses pengolahan dan komponen blending yang lebih kompleks.

Oleh karena itu, ketika muncul angka harga keekonomian Pertalite yang jauh lebih tinggi dari harga jual Pertamax, maka yang patut dikaji bukan realitas industrinya, melainkan formulasi kebijakan yang digunakan.

Menurut Mulyanto, angka harga keekonomian yang beredar saat ini diduga berasal dari pendekatan formula berbasis harga impor (import parity price), yang tidak sepenuhnya mencerminkan struktur biaya riil dalam negeri.

Pendekatan ini, jika digunakan secara menyeluruh tanpa memperhitungkan produksi domestik dan efisiensi distribusi, berpotensi mendorong estimasi biaya ke arah yang lebih tinggi.

Akibatnya, nilai kompensasi atau subsidi yang harus ditanggung negara pun berpotensi membesar secara tidak proporsional.

“Dalam konteks fiskal, kondisi ini tidak dapat dipandang ringan. APBN harus dijaga agar tetap sehat dan berkelanjutan. Setiap rupiah yang dialokasikan untuk subsidi energi harus benar-benar mencerminkan kebutuhan riil, bukan sekadar hasil dari asumsi formula yang kurang presisi,” terang Mulyanto.

Karena itu, Mulyanto menekankan, diperlukan langkah korektif yang terukur dan berbasis data.

Pemerintah bersama lembaga terkait perlu membuka secara transparan struktur biaya BBM, mulai dari biaya kilang, komposisi impor dan domestik, hingga distribusi dan margin.

“Audit independen oleh lembaga negara seperti BPK menjadi penting untuk memastikan bahwa formula yang digunakan benar-benar mencerminkan kondisi riil dan tidak mengandung bias yang merugikan keuangan negara,” pungkas Mulyanto.

Sebagai informasi beredar video viral di masyarakat berisi struk pembelian BBM Pertalite dari SPBU dimana tertera harga keekonomian Pertalite sebesar Rp 16.088 per liter.  Harga ini lebih mahal dari harga pasar Pertamax yang sebesar Rp 12.300 per liter. (jpnn)