Kurs Rupiah Menguat Senin Pagi, Pemicunya soal BBM Non-Subsidi

Kurs Rupiah
Kurs rupiah menjadi Rp 17.155 per USD dari penutupan sebelumnya di level Rp 17.189 per USD. Foto/Ilustrasi: Ricardo/JPNN.com

JAKARTA – Nilai tukar (kurs) rupiah menguat 34 poin atau 0,20 persen pada Senin pagi.

Mata uang garuda bertengger di angka Rp 17.155 per USD dari penutupan sebelumnya di level Rp 17.189 per USD.

Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan penguatan rupiah dipengaruhi langkah pemerintah menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non subsidi.

“Rupiah berpotensi menguat terhadap USD menyusul langkah pemerintah menaikkan harga BBM non subsidi dianggap dapat mengurangi beban APBN (Anggaran Pendapatan Belanja Negara),” ucapnya kepada ANTARA di Jakarta, Senin.

PT Pertamina (Persero) baru saja menaikkan harga sejumlah produk BBM nonsubsidi yakni Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex mulai Sabtu (18/4/2026).

Harga Pertamax Turbo untuk wilayah DKI Jakarta per 18 April ini naik sebesar Rp19.400 per liter dari harga per 1 April 2026 sebesar Rp 13.100 per liter. Untuk harga Dextlite, ditetapkan sebesar Rp23.600 per liter, naik dari 1 April 2026 yang sebesar Rp 14.200 per liter. Adapun untuk Pertamina Dex, harga ditetapkan menjadi Rp23.900 per liter dari sebelumnya Rp14.500 per liter.

Harga sejumlah BBM ini juga tercatat mengalami penyesuaian di sejumlah provinsi lainnya.

Dalam laman resminya, Pertamina menyebut penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) umum itu dilakukan sesuai formula harga dasar dalam perhitungan harga jual eceran jenis bahan bakar minyak umum jenis bensin dan minyak solar yang disalurkan melalui stasiun pengisian bahan bakar umum.

Formula tersebut selaras dengan Keputusan Menteri (Kepmen) ESDM No. 245.K/MG.01/MEM.M/2022 sebagai Perubahan atas Kepmen No. 62 K/12/MEM/2020.

Di sisi lain, ketidakpastian seputar status Selat Hormuz memberikan sentimen negatif terhadap rupiah.

Sebagaimana dilaporkan Anadolu, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan bahwa Selat Hormuz telah kembali ke “kondisi sebelumnya” di bawah kendali “angkatan bersenjata”, merujuk pada blokade AS terhadap pelabuhan Iran yang masih terus berlangsung.

IRGC menegaskan hingga AS “memulihkan sepenuhnya kebebasan pergerakan kapal yang menuju dan keluar dari Iran”, situasi di Selat Hormuz akan tetap berada dalam pengawasan ketat dan tidak berubah.

“Investor juga masih cenderung wait and see hasil perundingan AS-Iran pada hari Senin dan RDG BI (Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia) pada hari Rabu (22/2). Namun, untuk perundingan Iran-AS belum bisa dipastikan terjadi, masih simpang siur,” ungkap Lukman. (jpnn)