JAKARTA – Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) sekaligus Presiden Partai Buruh, Said Iqbal mengungkapkan adanya potensi Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) massal di industri plastik dan tekstil.
Proyeksi tersebut sehubungan dengan potensi naiknya harga bahan bakar dan bahan baku, imbas dari eskalasi konflik geopolitik Timur Tengah.
Said menyatakan potensi PHK massal tersebut diperkirakan akan mengancam sekitar 9.000 karyawan dalam tiga bulan ke depan.
“Itu potensi yang sudah disampaikan pembicaraan antara pimpinan perusahaan dan serikat pekerja di tingkat perusahaan yang menjadi anggota KSPI ya. Ada di Cikarang Bekasi, ada juga di Banten ya Tangerang, ada juga di Jawa Timur Sidoarjo dan Mojokerto,” ujar Said Iqbal dalam konferensi pers daring, Jumat (17/4/2026).
Said menilai ancaman ini sudah terlihat melalui laporan terbaru Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) yang mencatat lebih dari 8.000 buruh ter-PHK pada Maret.
Kondisi tersebut diperparah kenaikan biaya produksi akibat lonjakan harga bahan bakar industri yang tidak bersubsidi, serta kenaikan harga bahan baku impor.
Said Iqbal merinci industri tekstil terhantam kenaikan harga kapas dari Australia, Amerika, hingga India yang naik tajam akibat perang.
“Itu bahan bakunya, kan, kapas. Kapas dari Australia, Amerika, dan juga dari India. Itu harganya naik tajam akibat adanya perang. Sehingga biaya produksi naik,” tuturnya.
Masalah serupa menimpa industri plastik yang mengalami kenaikan harga biji plastik dan petrokimia.
Hal tersebut berdampak pada produksi komponen sepeda motor, televisi, hingga perangkat radio.
Kondisi ini dinilai dapat membuat pabrik-pabrik harus menekan biaya buruh melalui pengurangan karyawan, sebagai langkah efisiensi atas tingginya ongkos produksi.
Kekhawatiran buruh ini diperkuat oleh penelitian Apindo yang menyebut 65 persen perusahaan tidak akan merekrut karyawan baru.
“Itu artinya apa sih? Berarti dengan karyawan yang ada, kalau tidak ada pekerjaan tambahan, bahkan ongkos produksi naik, akibat BBM industri naik dan bahan baku impor naik, itu, kan, berarti karyawan kontrak dipecat. Masa nggak ngerti?” kata Said panjang lebar. (jpnn)



