KABUT asap kembali menjadi persoalan yang tidak hanya menyelimuti langit, tetapi juga mengusik ruang-ruang belajar anak di Kalimantan Tengah (Kalteng). Ketika kualitas udara memburuk, sekolah dihadapkan pada pilihan yang sama-sama tidak mudah. Mempertahankan pembelajaran tatap muka (PTM) atau memindahkan proses belajar ke ruang digital.
Di satu sisi, sekolah adalah ruang penting bagi anak untuk belajar, bersosialisasi, bermain, dan membangun karakter. Namun di sisi lain, paparan asap dan kualitas udara yang buruk dapat membuat aktivitas di luar ruangan menjadi persoalan serius, terutama bagi anak-anak.
Dilema itu, semakin terasa pada jenjang pendidikan anak usia dini hingga sekolah dasar. Anak-anak pada usia tersebut belum sepenuhnya mampu memahami risiko lingkungan di sekitarnya. Mereka membutuhkan pendampingan langsung guru, interaksi dengan teman sebaya, serta aktivitas pembelajaran yang tidak selalu mudah dilakukan melalui layar.
Ruang kelas yang biasanya menjadi tempat anak-anak belajar dan bermain, dalam kondisi tertentu justru harus dipertanyakan kembali tingkat keamanannya.
Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) menjadi salah satu pilihan. Ketika kondisi udara tidak memungkinkan kegiatan belajar tatap muka berlangsung secara aman.
Namun PJJ bukan sekadar memindahkan guru dari depan papan tulis ke depan kamera. Perubahan ruang belajar juga berarti perubahan cara mengajar, cara anak menerima pelajaran, hingga cara orang tua mendampingi pendidikan anak.
Bagi siswa SMP dan jenjang yang lebih tinggi, pembelajaran melalui platform digital relatif lebih memungkinkan. Mereka pada umumnya sudah memiliki kemampuan untuk mengikuti instruksi, mengakses materi, mengerjakan tugas, dan berkomunikasi dengan guru secara mandiri.
Anak-anak membutuhkan pembelajaran yang konkret, sederhana, interaktif, dan berulang. Durasi menatap layar yang terlalu lama juga bukan solusi ideal. Karena itu, PJJ pada kelompok usia tersebut membutuhkan kreativitas yang lebih besar dari guru dan orang tua.
Guru dituntut tidak sekadar memberikan tugas melalui aplikasi pesan, tetapi merancang aktivitas yang dapat dilakukan anak di rumah dengan pendampingan keluarga. Sementara orang tua mau tidak mau harus mengambil sebagian peran sebagai pendamping belajar.
Namun tidak semua orang tua memiliki waktu, kemampuan, maupun fasilitas yang sama untuk mendampingi anak belajar dari rumah. Ada orang tua yang bekerja sepanjang hari. Ada pula yang harus membagi perhatian antara pekerjaan rumah tangga dan mendampingi beberapa anak sekaligus.
Ketersediaan perangkat dan jaringan internet juga menjadi faktor yang tidak bisa diabaikan. Karena itu, kebijakan PJJ tidak cukup hanya dengan mengatakan, bahwa pembelajaran dilakukan secara daring. Sekolah perlu memastikan bahwa metode tersebut benar-benar dapat diikuti oleh peserta didik.
Bagi sebagian keluarga, pembelajaran daring mungkin cukup mudah. Namun bagi keluarga lain, satu telepon genggam harus digunakan bergantian oleh beberapa anggota keluarga.
Kondisi tersebut menunjukkan, bahwa asap bukan hanya memindahkan anak dari ruang kelas ke ruang digital. Asap juga memperlihatkan kesenjangan akses pendidikan yang selama ini mungkin tidak terlihat.
Dalam situasi darurat seperti kabut asap, kreativitas guru menjadi salah satu kunci. Pembelajaran tidak harus selalu berlangsung melalui konferensi video. Guru dapat mengombinasikan pesan suara, video pendek, lembar aktivitas, tugas berbasis lingkungan rumah, hingga komunikasi langsung dengan orang tua.
Untuk anak PAUD, misalnya, kegiatan belajar dapat dikemas dalam bentuk permainan sederhana di rumah. Anak dapat diajak mengenal warna, angka, bentuk, cerita, atau aktivitas motorik dengan benda-benda yang tersedia di sekitarnya.
Untuk siswa SD, tugas dapat diarahkan pada aktivitas membaca, menulis, berhitung, eksperimen sederhana, maupun proyek kecil yang tetap berada dalam pengawasan orang tua.
Artinya, ruang belajar tidak harus selalu berbentuk kelas dengan meja dan kursi. Namun dalam kondisi asap, ruang belajar juga harus dirancang agar tidak membebani anak dan keluarga.
Di sisi lain, keputusan untuk tetap melaksanakan pembelajaran tatap muka juga tidak semestinya hanya didasarkan pada pertimbangan keberlangsungan kurikulum. Keselamatan dan kondisi kesehatan peserta didik harus menjadi pertimbangan utama.
Sekolah perlu melihat kondisi kualitas udara secara aktual, memperhatikan kelompok anak yang lebih rentan, membatasi aktivitas luar ruangan, serta memastikan lingkungan sekolah tetap memungkinkan untuk kegiatan belajar.
Dengan demikian, persoalannya bukan semata-mata sekolah buka atau tutup. Melainkan bagaimana memastikan hak anak untuk mendapatkan pendidikan tetap berjalan tanpa mengabaikan keselamatan mereka.
Ketika sekolah tetap berjalan, ada kekhawatiran terhadap keselamatan anak. Ketika sekolah dialihkan sepenuhnya ke rumah, muncul persoalan lain berupa keterbatasan akses, pendampingan orang tua, perangkat, jaringan, hingga kualitas interaksi pembelajaran. Anak berada di tengah-tengah dilema tersebut.
Karena itu, diperlukan mekanisme yang fleksibel dan berbasis kondisi lapangan. Tidak semua wilayah memiliki kualitas udara yang sama. Tidak semua sekolah memiliki fasilitas yang sama. Tidak semua keluarga memiliki kemampuan yang sama.
Pendekatan yang seragam berisiko menghasilkan ketidakadilan. Pada kondisi tertentu, pembelajaran tatap muka mungkin masih memungkinkan dengan penyesuaian. Pada kondisi lainnya, PJJ menjadi pilihan yang lebih aman. Bahkan kombinasi keduanya dapat menjadi jalan tengah ketika situasi berubah-ubah.
Kabut asap seharusnya tidak hanya dilihat sebagai persoalan lingkungan atau kesehatan. Ia juga merupakan persoalan pendidikan. Setiap kali asap datang, sistem pendidikan diuji. Seberapa siap sekolah beradaptasi, seberapa kreatif guru mengubah metode pembelajaran, seberapa mampu orang tua mendampingi anak, dan seberapa cepat pemerintah mengambil keputusan berdasarkan kondisi udara di lapangan.
Sebab bagi seorang anak, belajar bukan hanya tentang menyelesaikan materi pelajaran. Belajar adalah tentang bertemu guru, bermain dengan teman, bertanya, mencoba, gagal, kemudian mencoba kembali.
Tetapi ketika udara di luar tidak lagi bersahabat, semua itu harus menemukan bentuk baru. Di tengah kabut asap, yang dipertaruhkan bukan sekadar anak tetap masuk sekolah atau belajar dari rumah. Yang dipertaruhkan adalah bagaimana memastikan anak tetap mendapatkan hak untuk belajar tanpa harus mempertaruhkan keselamatannya.
Dan, di situlah dilema ruang belajar sesungguhnya berada. Pintu kelas yang harus tetap terbuka dan udara yang justru memaksa pintu itu ditutup. (*)
Penulis: Vinsensius
Catatan Redaksi: Opini ini merupakan pandangan editorial dan tidak mewakili kepentingan individu atau kelompok mana pun.



