PALANGKA RAYA – Bakal Calon Rektor Universitas Palangka Raya (UPR), Prof. Bhayu Rhama, menegaskan pentingnya membangun jejaring nasional dan internasional sebagai salah satu strategi utama dalam mendorong kemajuan perguruan tinggi di era persaingan global.
Menurutnya, pengalaman berinteraksi dan belajar dari tokoh-tokoh nasional telah memberikan banyak pelajaran berharga mengenai kepemimpinan, tata kelola organisasi, serta pentingnya kolaborasi lintas institusi untuk memperkuat kualitas pendidikan tinggi.
Salah satu sosok yang dinilai memberikan pengaruh besar dalam perjalanan akademik dan kepemimpinannya adalah Prof. Dr. Agus Pramusinto. Akademisi yang dikenal sebagai pakar administrasi publik tersebut pernah menjabat sebagai Ketua Indonesian Association for Public Administration (IAPA) periode 2019–2022 serta Ketua Komisi Aparatur Sipil Negara (KASN) periode 2019–2024.
“Beliau tidak hanya menjadi mentor dalam organisasi profesi, tetapi juga membimbing saya dalam pengembangan karier akademik hingga meraih jabatan Guru Besar,” ujar Bhayu baru-baru ini.
Ia menjelaskan, kesempatan bekerja bersama Agus Pramusinto melalui kepengurusan IAPA membuka wawasan yang lebih luas mengenai penguatan tata kelola organisasi, pengembangan sumber daya manusia, serta pentingnya membangun jaringan kolaborasi yang berkelanjutan.
Bhayu mengungkapkan, kehadiran Agus Pramusinto saat pengukuhan dirinya sebagai Guru Besar di Kalimantan Tengah menjadi kehormatan tersendiri sekaligus pengingat bahwa setiap pencapaian akademik harus memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
Lebih dari sekadar hubungan personal, Bhayu memandang jejaring yang dimiliki para akademisi dan pemimpin nasional sebagai jembatan strategis untuk membuka peluang kerja sama yang lebih luas bagi UPR.
“Melalui pengalaman, kepemimpinan, serta jejaring nasional dan internasional yang dimiliki para tokoh tersebut, Universitas Palangka Raya memiliki peluang besar memperluas kolaborasi dengan perguruan tinggi, organisasi profesi, serta lembaga pemerintahan baik di dalam maupun luar negeri,” katanya.
Menurutnya, kolaborasi tersebut dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan riset bersama, meningkatkan kualitas publikasi ilmiah internasional, memperkuat kapasitas dosen, memperluas program pertukaran akademik, serta meningkatkan daya saing lulusan di tingkat global.
Bhayu meyakini transformasi UPR menuju universitas bereputasi tidak hanya ditentukan oleh kekuatan internal kampus, tetapi juga kemampuan membangun jejaring strategis dengan berbagai pihak.
“Pengalaman berkolaborasi dengan akademisi dan pemimpin nasional yang memiliki pengaruh dalam pengembangan kebijakan publik, tata kelola pemerintahan, serta jejaring internasional merupakan modal penting untuk memperkuat internasionalisasi UPR dan menghadirkan manfaat yang lebih besar bagi sivitas akademika maupun masyarakat Kalimantan Tengah,” pungkasnya. (cen)



