PALANGKA RAYA – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah (Kalteng) yang belum mereda, belum membuat pemerintah menetapkan status bencana nasional.
Salah satu pertimbangan Gubernur Kalteng, Agustiar Sabran adalah aktivitas masyarakat yang dinilai masih berjalan, meski dampak kebakaran mulai mengganggu perekonomian hingga kesehatan warga.
Agustiar mengatakan, penanganan karhutla hingga kini masih terus dilakukan bersama unsur terkait. Karena itu, pemerintah belum mengambil langkah untuk meningkatkan status bencana menjadi skala nasional.
“Belum, ini kan selama kerja pun masih jalan ya,” ujar Agustiar saat diwawancarai di Rumah Jabatan Bupati Kotawaringin Timur (Kotim), baru-baru ini.
Di sisi lain, karhutla dan kabut asap yang menyelimuti sejumlah wilayah Kalteng telah menimbulkan dampak terhadap kehidupan masyarakat. Aktivitas petani dan nelayan ikut terganggu, sementara ancaman gangguan kesehatan akibat buruknya kualitas udara juga menjadi perhatian.
Agustiar mengakui adanya dampak tersebut. Pemerintah, katanya, terus memantau kondisi kesehatan masyarakat melalui rumah sakit, terutama perkembangan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
“Kami kan selalu cek rumah sakit,” katanya.
Berdasarkan pemantauan tersebut, Agustiar menyebut kasus ISPA mengalami kenaikan sekitar 30 hingga 40 persen dibandingkan kondisi normal.
“Kurang lebih 30 persen, 40 persen kenaikan ISPA daripada hari-hari biasanya,” ungkapnya.
Meski demikian, Agustiar mengingatkan bahwa peningkatan kasus ISPA tidak bisa sepenuhnya dikaitkan dengan kabut asap akibat karhutla. Perubahan musim atau pancaroba, menurut dia, juga dapat memicu meningkatnya gangguan pernapasan.
“Karena menyangkut ISPA ini, pancaroba pun tinggi ISPAnya,” ujarnya.
Belum ditetapkannya status bencana nasional ini menjadi perhatian di tengah karhutla yang masih berlangsung dan dampaknya yang meluas.
Aktivitas masyarakat yang tetap berjalan menjadi salah satu alasan yang disampaikan gubernur, tetapi kondisi tersebut tidak serta-merta menggambarkan, bahwa seluruh warga terbebas dari dampak kebakaran.
Terlebih, kenaikan kasus ISPA yang diakui Gubernur menunjukkan adanya persoalan kesehatan yang perlu terus diwaspadai. Gangguan terhadap petani dan nelayan juga memperlihatkan, bahwa dampak karhutla tidak hanya berkaitan dengan kebakaran lahan, tetapi turut menyentuh penghidupan masyarakat. (ifa/abe)



