JAKARTA – Bank Indonesia (BI) merespons pelemahan nilai tukar rupiah yang menyentuh level Rp17.086 per dolar AS pada perdagangan Selasa (7/4/2026).
Kondisi itu dinilai sebagai dampak langsung dari tingginya ketidakpastian geopolitik global yang terus berlanjut.
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti menegaskan bank sentral menempatkan stabilitas sebagai prioritas utama dalam menghadapi tekanan eksternal tersebut.
Guna membentengi mata uang Garuda, BI berkomitmen mengoptimalkan seluruh instrumen kebijakan yang tersedia.
“Di tengah ketidakpastian global yang sangat tinggi maka saat ini stabilitas menjadi prioritas utama bagi Bank Indonesia (BI).”
“Untuk itu, BI akan mengoptimalkan pemanfaatan seluruh instrumen operasi moneter (OM) yang dimiliki dan juga kebijakan OM untuk menjaga stabilitas nilai tukar,” ujar Destry dalam keterangan resminya, Selasa (7/4/2026).
Destry menjelaskan langkah strategis diambil untuk mengawal pergerakan Rupiah agar tetap berada dalam batas wajar.
BI akan mengerahkan kekuatan penuh dengan memastikan ketersediaan likuiditas dan kehadirannya di pasar keuangan tetap terjaga.
Guna meredam fluktuasi berlebihan, Bank Indonesia secara aktif memantau dan melakukan intervensi di berbagai lini perdagangan mata uang.
Pemantauan dilakukan secara menyeluruh, tidak hanya pada pasar domestik, tetapi juga merambah ke pasar internasional.
Destry mengeklaim kehadiran BI di pasar dilakukan dengan cara yang konsisten dan terukur untuk memberikan kepastian bagi para pelaku pasar.
Langkah itu diharapkan mampu menekan volatilitas Rupiah dan menjaga kepercayaan pasar di tengah dinamika ekonomi global yang masih penuh tantangan.
“BI secara konsisten dan terukur akan selalu berada di pasar uang, baik di spot market, DNDF (Domestic Non-Deliverable Forward), maupun NDF (Non-Deliverable Forward) di offshore market,” imbuhnya. (jpnn)



